Lazada Indonesia

Tuesday, April 12, 2016

PERIODE PENDIDIKAN PADA ZAMAN PORTUGIS DAN SPANYOL

PERIODE PENDIDIKAN PADA ZAMAN PORTUGIS DAN SPANYOL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan hal yang wajib serta sangat penting bagi setiap warga negara. Pendidikan merupakan suatu hak serta kewajiban yang harus di miliki bagi setiap warga negara. Hal tersebut tercantum dalam Undang- Undang Republik Indonesia yakni dalam pasal 31 ayat 1 yang berbunyi  “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” hal tersebut sangat jelas nahwa pendidikan itu sangat penting.
Selain itu pendidikan juga memiliki fungsi yakni untuk membangun serta mempertahankan suatu negara agar negara tersebut tidak tertinggal dengan negara lain. Dengan adanya pendidikan ini pola pikir masyarakat pun berubah, berbeda dengan yang tidak mengeyam bangku pendidikan. Masyarakat yang berkesempatan untuk memperoleh pendidikan memiliki pemikiran yang maju serta dewasa berbanding terbalik dengan yang tidak berpendidikan.
Sejak zaman penjajahan pun pendidikan ini sangat di perhatikan salah satu cara yang dilakukan agar pendidikan ini terlaksana yakni dengan cara bersekolah.
1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa latar belakang portugis dan spanyol datang ke Indonesia?
2.      Bagaimana sistem pendidikan pada zaman portugis dan spanyol?
3.      Dimanakah daerah yang menjadi penyebaran zaman portugis dan spanyol?
4.      Apa ciri-ciri pendidikan di masa portugis?
5.      Apa pengaruh kedatangan bangsa Portugis ?

1.3  Tujuan

1.      Dapat mengetahui apa yg menjadi tujuan portugis dan spanyol datang ke Indonesia
2.      Dapat mengetahui sistem pendidikan pada zaman portugis
3.      Dapat mengetahui daerah penyebaran portugis dan spanyol
4.      Dapat mengetahui ciri-ciri pendidikan masa portugis
5.      Dapat mengetahui pengaruh kedatangan portugis


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Latar belakang datangnya bangsa Portugis dan Spanyol ke Indonesia
Pada awal abad ke-16 datanglah bangsa Eropa ke Indonesia, yang pertama adalah bangsa Portugis, yang kemudian disusul bangsa Spanyol, mereka datang ke Indonesia memiliki tujuan yakni untuk berdagang, selain untuk berdagang dan juga untuk mengembangkan agama Nasrani (Agama Katolik). Kecuali Maluku sedikit sekali pengaruh dari kebudayaan mereka. Hal itu tidak mengherankan, karena ketika bangsa Portugis datang ke Malaka dan Indonesia, mereka menemui alat-alat kebudayaan yang tidak kalah oleh milik kebudayaan bangsa barat. Pengaruh barat pada masa itu hanya bagaikan kulit, sedangkan isinya tetap Indonsia asli. Tujuan Portugis datang ke Indonesia adalah untuk melebarkan sayapnya dengan mengembangkan agama Khatolik, selain juga untuk berdagang. Dua maksud yang berpadu menjadi satu hinga kemudian melahirkan maksud-maksud yang lain. Portugis menganggap keberadaan Islam di bumi nusantara adalah musuh yang harus dimusnahkan, baik di sektor agama itu sendiri, perdagangan (ekonomi), politik, dan segala lini lainnya. Dan syarat dasar untuk mencapai tujuannya adalah pembangunan di bidang pendidikan untuk masyarakat lokal. Bisa jadi ini untuk mengimbangi budaya menimba ilmu di surau oleh masyarakat muslim. Dibentuklah sekolah guru untuk pertama kalinya di wilayah Indonesia. Sekolah guru itu didirikan di daerah Ternate yang didirikan oleh kaum pendeta portugis. Hal yang sama juga berlaku untuk pulau-pulau lain disekitar Ternate. Sekolah-sekolah ini dibina oleh kaum gerejawan khatolik. Dengan jalan mengembangkan pendidikan berdasarkan agama khatolik itu bangsa portugis berusaha untuk dapat berpengaruh di segala bidang (terutama ekonomi dan politik). Namun semua itu mengalami kegagalan karena kecerobohan dan keserakahan para penguasa mereka sendiri. Pada tahun 1574 mereka diusir dari ternate dan datanglah bangsa belanda yang mencoba melakukan apa yang elah dilakukan oleh bangsa portugis.
Sedangkan bangsa Spanyol yang tergabung dalam kapal Ekspedisi Magelhaens-Del Cano tiba pertama kali tiba di kota Tidore pada tahun 1521 untuk menyelesaikan sengketa di Maluku tersebut. Portugis dan Spanyol menempuh jalur perundingan yang dilaksanakan di Saragosa(Spanyol) pada tahun 1529. Perundingan dua bangsa tersebut menghasilkan kesepakatan yang disebut Perjanjian Saragosa. Isi Perjanjian Saragosa, antara lain :
1.      Spanyol harus segera meninggalkan Maluku dan melakukan perdagangan di Filipina.
2.       Portugis tetap melakukan kegiatan perdagangan di Kepulauan Maluku.
Antara tujuan dari kedatangan bangsa portugis dan spanyol yakni :
1.      Gold, yaitu mencari emasatau mencari kejayaan
2.      Glory, yaitu mencari kekuasaan atau kejayaan
3.      Gospel, yaitu menyebarkan agama kristen
2.2  Pendidikan Yang Terjadi Pada Masa Portugis
Setelah  dapat  menguasai malaka pada permulaan abad ke -16, orang-orang Portugis bergerak mencari daerah sumber rempah-rempah di Indonesia bagian timur yakni di bagian pulau Ternate, Tidore, Ambon dan Bacan. Dalam gerakan ini selalu di ikuti oleh missinaries Roma Khatolik. Hal tersebut karena mereka ingin mencari rempah-rempah serta menyebarkan agama khatolik yang sebagian besar di anut oleh bangsa eropa. Segera sesudah menduduki daerah atau pulau maka langkah pertama yang dikerjakan adalah menjadikan penduduk setempat penganut agama roma katolik. Tugas ini dilakukan oleh padri-padri dari “ordo Fransiskan” sesudah masyarakat pribumi dibaptis dan menjadi penganut agama roma khatolik  langkah berikutnya adalah memberikan pendidikan kepada mereka agar  agama baru yang telah dipeluk dapat diresapi dan didalami. Peranan para missionaris dari “ordo franciskan” kemudian terdesak oleh kaum “Yezuit”(salah satu ordo padri Katolik) dibawah pimpinan Fransiskus Xaverius(1506-1552) yang kemudian menjadi peletak dasar dari Katolik se Indonesia.
Pada tahun 1536 penguasa Portugis di Maluku bernama Antonio Galvano, mendirikan sekolah seminari untuk anak-anak dari pemuka Bumiputera. Dalam sekolah seminari ini anak-anak mendapatkan pelajaran agama selain itu  juga diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Bahasa pengantar yang digunakan  dalam sekolah seminari ini  tidak dapat diketahui secara jelas. Sekolah semacam ini didirikan di pulau Solor jumlah muridnya mencapai 50 siswa, diketahui bahwa bahasa latin diajarkan pada Bumi Putera ternyata dapat mengikuti pelajaran dan ingin melanjutkan dan meneruskan studi ke Goa, yang menjadi kekuatan Portugis di Asia. Fransiskus Xaverius pada tahun 1547 pergi ke Goa dari Ternate dengan membina pemuda-pemuda Maluku untuk melanjutkan pendidikan ke Goa (Soemarsono Mestoko,dkk:1986:71).
Penyebaran agama Katolik di daerah Maluku demikian pula penyelenggaraan pendidikan tidak banyak mengalami perubahan atau kemajuan yang begitu pesat hal tersebut karena selain hubungan bangsa Portugis dengan Sulatan Ternate kurang baik, mereka harus berperang melawan bangsa Spanyol kemudian Inggris.
Akhirnya Belanda yang dapat menghalau bangsa Portugis dari Indonesia Timur dan kemudian mengambil alih segala Harta banda termasuk milik Gereja Katolik beserta lembaga pendidikannya. Tetapi sebagian penduduk masih setia terhadap katolik roma hingga Sekarang (Sumarsono Mestoko, dkk:1986:72).
2.3  Daerah Penyebaran Pengaruh Portugis
2.3.1   Maluku
Secara historis kepulauan Maluku sangat terkenal dengan sebagai suatu daerah penghasil rempah-rempah tetapi sebenarnya daerah tersebut bukanlah pulau penghasil rempah-rempah yang asli selama berabad-abad sebelum kedatangan orang-orang barat di kepulauan Maluku para pedangan melayu,jawa dan cina telah melakukan dagang cengkeh dengan system barter.
 Pada tahun 1525 orang-orang portugis melakukan kontak hubungan dengan penduduk Hitu akan tetapi mereka terpaksa pindah kesemenanjung Leitimor  di tempat itulah orang-orang Portugis ini mendirikan benteng yang selanjutnya menjadi kota Ambon sekarang, bersamaan dengan itu mereka memperluas penanaman pohon cengkeh sampai kepualuan Leiser.
Pada tahun 1536 penguasa portugis untuk Maluku adalah Antonio Galvano berhasil mendirikan sekolah Seminari untuk anak-anak para pembuka pribumi di Ternate yang merupakan sekolah agama Kristen bagi-anak-anak mereka dan sekolah yang sejenis kemudian didirikan di pulau Solor dengan jumlah murid sebanyak 50 orang, murid-murid yang berasal dari golongan pribumi dan ternyata mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan berkeinginan melanjutka pendidikannya ke Goa (India).
Pada tahun 1546 di Ambon sudah banyak pemeluk agama khatolik selain pelajaran agama yang di berikan pelajaran seperti membaca,menulis dan berhitung juga di berikan dengan  tambahan bahasa latin.
2.3.2   Sumatra Selatan
Hubungan kesultanan Palembang dengan bangsa Portugis di malaka sampai akhir abad ke-16 selalau mengikuti kebijakan Demak yang telah mengambil alih peran malaka dalam penyebaran agama Islam di daerah nusantara, serbuan Demak terhadap malaka sejak tahun 1512 sampai 1513 dan 1551-1574 selalu mendapatkan bantuan dari Palembang sehingga tidak memberikan kesempatan kepada bangsa eropa untuk berpengaruh di daerah palembang.
Ketika inggris menguasai Bengkulu sempat misi Kristenisasi dibawah zending Kristen memasuki daerah Tanjung Sakti dibawah asuhan seorang pastur Khatolik di daerah tanjung sakti dibangun sebuah sekolahan desa (volkschool) dan voorvolkschool di simpang tiga Tanjung Sakti  setelah itu di buka pula sebuah sekolahan pertanian dalam masyarakat setempat sekolahan itu di kenal dengan nama sekolah mingguan.
Penyebaran agama khatolik dengan mempergunakan sarana pendidikan yang setingkat dengan pendidikan pada akhir abad ke-19 hanya terbatas daerah Tanjung Sakti saja karena tidak dapat menjangkau daerah yang lebih luas dan setela jatuhnya kesultanan Palembang pada tahun 1848-1868 sumatra selatan berhasil dikuasi belanda dan mengambil alih segala harta benda milik gereja dan semua lembaga pendididkannya.
2.4  Ciri-Ciri Pendidikan pada masa portugis
Seorang penguasa dari portugis di Maluku bernama Antonio Galvano mendirikan sebuah sekolahan Missionaris untuk anak-anak pemuka pribumi adapun sekolahan mengajarkan beberapa pelajaran seperti :
           1. Membaca
           2. Menulis
           3. berhitung dan agama
Metode yang di pergunakan berupa:
1.      Ceramah
2.      Menghapal
3.      Mengkaji ulang pelajaran
Adapun ciri-ciri pendididkan pada masa Portugis yaitu:
1.      Yang memberikan pelajaran biasanya di sebut pastur atau pendeta
2.      Metode yang diajarkan bersifat ceramah, menghafal, mengkaji ulang
3.      Waktu belajar pada hari minggu
4.      bersifat klasikal
2.5      Pengaruh  Kedatangan Bangsa Portugis Di Indonesia
Selama berada di Indonesia orang-orang portugis meninggalkan beberapa pengaruh kebudayaan mereka seperti  :
1.      Dalam Bidang Kesenian
Bangsa portugis meninggalkan kesenian yang berupa balada-balada keroncong yang diiringi gitar yang berasal dari kebudayaan portugis
2.      Dalam Bidang Bahasa
Kosa kata bahasa Indonesia juga ada yang berasal dari bahasa portugis seperti,bendera,keju dll
3.      Dalam Bidang agama
Adanya bangunan-bangunan gereja di Indonesia dan masyarakat Indonesia bagian timur kebanyakan memeluk agama khatolik
4.      Dalam Bidang Pendididkan
Didirikannya sekolahan seminari di Ambon dan volkschool dan voorvokschool di tanjung sakti.
2.6  Reaksi Masyarakat Indonesia Kedatangan Portugis
Kedatangan bangsa portugis di Indonesia disambut baik oleh penguasa setempat karena bangsa portugis membawa bahan pangan dan membeli rempah-rempah. Akan tetapi perdagangan asia bangkit kembali sehingga portugis tidak perna dapat melakukan suatu monopoli yang efektif dalam perdagangan rempah-rempah.
Hubungan Ternate dan Portugis berubah menjadi tegang karena upaya yang lemah membuat Portugis melakukan kristenisasi sedangkan masyarakat Ternate pada waktu itu memeluk agama Islam dan prilaku orang-orang Portugis yang tidak sopan dan pada tahun 1570 orang Portugis membunuh Sultan Ternate sehingga orang-orang Portugis di usir dari Ternate dan pada tahun 1575 terjadi peperangan sehingga orang –orang portugis pindah ke Tidore dan membangun sebuah benteng baru namun yang menjadi pusat orang-orang portugis melakukan semua aktivitasnya adalah Ambon.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Setelah bangsa portugis dapat  menguasai malaka pada permulaan abad ke -16, orang-orang Portugis bergerak mencari daerah sumber rempah-rempah di Indonesia bagian timur yakni di bagian pulau Ternate, Tidore, Ambon dan Bacan. Dalam gerakan ini selalu di ikuti oleh missinaries Roma Khatolik. Hal tersebut karena meeka ingin mencari rempah-rempah serta menyebarkan agama khatolik yang sebagian besar di anut oleh bangsa eropa. Dalam pendidikan yang terjadi pada masa portugis ini kebanyakan mengajarkan mengenai agama yang menjadi misi bangsa portugis yakni penyebaran agama katholik. Namun selain agama dalam pendidikan di jaman portugis ini juga mengajarkan mengenai membaca, menulis, dan berhitung.

DAFTAR PUSTAKA
( diakses tanggal 27 Mei 2014 )














0 comments:

Post a Comment